Sabtu, 21 Agustus 2010

Sahabatku terlahir untuk sebuah perjuangan.

Beralaskan belas kasih aku berbagi, kenyataan teralami oleh sahabat kecilku -sebut dia Ning- dialah kawan pertama, benar-benar yang pertama setelah aku terhempas ke bumi. Tidak jauh dari rumahku ia singgah, bersama keluarganya ia menjadi gadis cantik nan gemulai.
Semasa kecil ia mengajariku bernyanyi, menari, bersepeda, menghitung, yang ku sadari telah ku miliki saat ini. Dia gadis yang sangat tangguh, bahkan memanjat pohon pun berani, saat itu sering merinding aku melihatnya. Terlalu berani untuk aku menjadi dirinya. Jiwa kekanak-kanakan selalu hinggap padaku, aku selalu ingin menyamai apa yang ia miliki, walau hanya sendal jepit atau pita rambut yang ia miliki.
Usai jam sekolah berakhir, tak ingin aku lewatkan tanpanya. Dia menemani masa kecilku, saksi hingga aku suka masa kecilku.
Hari terus terlewati, pada sebuah hari dimana ia ditinggal pergi Ibunya untuk menghadap Sang Pencipta, aku tak dapat berbuat sesuatu, kecuali melihat kesedihannya yang tak berkesudahan.
Sebuah usia pun menjadikan kami tak sering bertatap muka, sekolah kami yang berbeda, rutinitas yang tak lagi sama, membuat hati tak terisi olehnya. Keputusan keluarganya untuk tak singgah disini adalah realita yang memisahkan aku dengan dirinya.
Tak lama ini aku mendengar kabarnya dari seorang sahabat, tentang keadaannya yang tak sebaik dulu. Sontak namun diam yang bisa ku kerjakan, tanpa tau dimana tinggalnya, ingin sekali ku seka air matanya jika ku ingat tangisannya dihadapku dulu.
Doa-doa yang selalu terpanjat, jika kelak kami bertemu adalah senyum yang kau hadirkan untuk ku. Tertanggal 20 Agustus dia berulang tahun. Lagi dan lagi aku tak dapat beradaptasi. Tak dapat ku bayangkan ulang tahunnya yang sepi karna ia sendiri.
Sahabat kecilku, sahabatku yang cantik, teruslah bernyanyi seperti dulu kau ajarkan padaku. Awan-awan hitam tak kan mampu menyelimuti, karna mentari yang selalu menghadirkan cahaya terang untukmu. Selamat berulang tahun yang ke 20. Kelak kita kan bertemu, bercerita indah di hari-harimu.
Jarak tak kan mengubah kenyataan bahwa kau bagian dari pahlawan hidupku.
Selamat berulang tahun, Tri Wahyu Ningsih.
Percayalah pada diri, usah kau iri pada dunia orang lain. Hidupmu adalah pelangi.
Semoga sukses, Sahabatku..

Salam hangat untuk kisah kecil kita

Merajut SEPAT dan DUPHAT

SEPAT
Tertulis pada ruang XI IPA 4, jalinan antara suka dan lara tersusun manis. Para pejuang tak berkorban bernafas di ruang sempit nan usik itu. Cat dinding hijau layu menjadi saksi ketengikan, kecerobohan, bahkan kebodohan diri menjadi siswa-siswi.
Awal bulan ku jalani bersama pejuang abadi, mengalir rasa suka antara sorotan-sorotan mata dan cakap bicara yang mengalir sepanjang hari. Hingga ku rasa aku tlah memiliki SEPAT seutuhnya. Rajutan merdu ku dengar slalu pada ruang penjara itu, meski guru berkata dan mencaci kelas berisik kami.
Berlokasi dibawah tangga kembar kami bersiul, tanpa PR yang kami kerjakan, tanpa buku yang kami miliki, tanpa kerapian diri, tapi wali kelas bernama Ibu Yuli Astuti selalu mengerti, tiap ucapannya bak hujan menyirami, bak mentari menghangtkan kami.
Kami bermuka, bersemangat dan terus berwarna hingga realita mempersembahkan kelas kami yang terlalu gaduh untuk dihuni. Pelajaran kimia, fisika, biologi tertelan walau tak mengerti. Terus terjadi hingga kami menaiki kelas XII IPA 4, ruang yang pantas untuk bersaksi.

DUPHAT
Hiruk-pikuk tak pergi, masih tertata gaduh, tak banyak perbedaan kecuali para guru yang berkisah dan berceramah pada kami yang tak sadarkan diri. Berulang hingga kami terbangun, kelas XII IPA 4 telah kami singgahi untuk nafas terakhir di masa SMA.
Wali kelas Ibu Utami Soifah datang dan pergi menghampiri kelas yang tak bernaluri. Hari-hari yang membisu seolah tak ingin mengingatkan bahwa kami berjanji. Berjanji pada diri untuk meninggalkan kelas dengan segenggam kertas ijazah ditangan kami.
Waktu lah yang menyadari, hingga sebuah hari berkisah tentang manusia DUPHAT lulus tanpa terkecuali. Lara-lara yang terjadi, tawa-tawa yang mewakili tumpah dalam balutan indah nan harmoni. Berirama pada kemenangan, bersyukur pada Sang Pencipta, izin untuk mewarnai masa depan.
Rintihan karna kami berpisah serta teriakan kelulusan membanjiri, lalu doa-doa terpanjat untuk nama-nama mereka. Kenang dan ingatlah, kita beratapkan langit yang sama, berteduhkan mentari yang sama.
Terimakasih lukisan indah pada rangkaian SEPAT dan DUPHAT.

Atas nama kawan-kawanku:
Adisca, Agista, Agus, Andri, Andra, Andrian, Uze, Anita, Ana, Aprian, Bagus, Beni, Bujo, Pipit, Clara, Denis, Devi, Didik, Dirhan, Donas, Fakhmi, Farah, Hardika, Hasto, Ilmas, Jojo, Lia, Upik, Pipit, Fuad, Pandu, Risma, Nurita, Restu, Rosti, Bela, Sconda, Siti.

Hanya ini rangkaian kata untuk kalian, kawanku. Salam merdu bernama "persahabatan"

Jumat, 20 Agustus 2010

Beralih Kisah

Seperti tak tersadarkan, akan lirih yang terus mengikuti, sepasang hati pada jiwa muda teruslah beradaptasi. Tak peduli seberapa adanya, tak peduli milik siapa. Kian membara tak terelakkan antara perasaan saling tersembunyi.
Sadari diri, kalau begini adalah menyakiti. Ku ulang lagi kalimat itu, tetap sama adanya adalah "percaya pada hati". Ku nikmati apa yang berkecamuk, terkesan indah karena kau selalu mengerti.
Hingga kau hadir bukan saja di mimpi tapi di hidupku kini. Beberapa lama, waktu yang selalu ku hitung untuk menerjemahkan mimpi masih kita nikmati. Sampai ku rasa pertengkaran antara diri dan hati kian berteriak sunyi.
Saat yang sama, saat itu juga ku terangkan ucapan untuk sudahi. Hening lalu menyambar di sabtu sore itu, mentari tertunduk lesu menyaksikan pergejolakan 2 insan yang ingin dimengerti. Hanya alasan karna dia masih bertemankan seorang pengagum, aku tak menunggunya lagi.
Pertemuan yang selalu terjadi, seperti bintang bertemu langit tak dapat terhindari. Menjauh tak dapat, mendekat ku kagumi. Lama kian bertahan pada rasa yang ini. Kosong, tak peduli, sendiri, sepi, berharap, pertentangan menyelimuti.
Usai cerita terperi yang terjadi di bulan mei, ku gali masa laluku, menyibak misteri kisah pertemanan di sekolah. Bukan aku yang berhianat kawan, ini masalah hati, yang tak dapat ku terangkan darimana akarnya.
Berkisah tentang bintang dan langit tak dapat terhapus. Semangatnya akan keyakinan bukan sekedar janji terus ku pahami, karna kau bilang "itu janji dan hutang, yang suatu saat harus dipenuhi".
Masih dalam sore yang redup, semilir angin jalan memetik melodi menghantar gerimis. Tetap ku ingat wajah bintang dan sang langit menari di sore sunyi.